Selasa, 01 Desember 2009

ZIKIR, SAMA’ DAN FANA’



M.Sulhan Akbar

                   I.            Devinisi

a.             Devinisi Zikir serta Zikir dalam perspektif al-Ghazali

Zikir secara etimologi atau bahasa artinya mengingat, sedangkan menurut istilah adalah memabasahi lidah dengan ucapan-ucapan pujian dan pengagungan kepada Allah Swt[1]. Dalam pandangan al-Ghazali, zikir kepada Allah merupakan hiasan kaum sufi dan sebagai salah satu syarat bagi orang yang menempuh  jalan Allah, dengan zikir hati bisa menjadi tenang, Sebab syarat utama dalam menempuh jalan Allah Swt adalah membersihkan hati secara menyeluruh dari selain Allah, menenggelamkan hati secara total dengan zikir kepada Allah dan fana (lebur) dengan Allah Swt.[2]

Terkait dengan fungsi zikir, imam al-Ghazali dalam kitabnya “Ihya’ Ulum Addin” menjelaskan bahwa dengan  zikir hati menjadi tenang, zikir juga bisa mendatangkan ilham, menghalangi ruang gerak setan sehingga setan menjauh dari hati manusia dan dalam kondisi itulah malaikat memberikan ilham kedalam hati manusia.[3] Dalam risalah al-Qusyairiyah dijelaskan  bahwa zikir  adalah rukun  (tiang) yang paling kuat sebagai jalan menuju Allah  swt,  atau bahkan saka  guru tarekat  mengatakan bahwa seseorang tidak akan bisa sampai kepada Allah bila tidak menjalankan zikir secara tetap.[4]

Pentingnya zikir untuk mencapai pengalaman ketuhanan  didasarkan pada argumentasi tentang peranan zikir  bagi hati atau qalbu yang menjadi instrumen ma’rifatullah.  Hati manusia menurut imam al-Gazali (Ihya’ Ulumuddin) tidak ubahnya seperti telaga yang di dalamnya mengalir bermacam-macam air, baik dari dalam maupun dari luar, artinya pengaruh– pengaruh yang datang ke dalam hati ada kalanya dari luar seperti panca indra, dan adakalanya dari dalam seperti hayal, syahwat, amarah dan akhlak atau tabiat manusia.[5]

Simuh dalam bukunya  “Tasawuf dan perkembangannya dalam islam” mengutip pada kitab al-hikam bahwa zikir adalah sebuah pintu yang paling besar untuk mencapai fana’ dan ma’rifah pada Allah, maka masukilah dan sertailah setiap keluar masuknya nafadz dengan zikir. Zikir dalam ajaran Tasawuf merupakan pintu gerbang utama untuk mencapai penghayatan ma’rifat kepada Allah, oleh karena itu dalam ajaran Tasawuf, tata cara zikir dan aturan-aturan wiridnya menjadi peranan yang sentral yang mewarnai dan menjadi ciri-ciri pembeda antara satu tarekat dengan tarekat yang lain.[6]

Zikir menurut tuntunan syariat Islam dan al-Qur’an adalah menyebut nama dan mengingat Allah Swt dalam setiap keadaan, yang bertujuan untuk menjalin ikatan batin (kejiawaan) antara hamba dengan Allah sehingga timbul rasa cinta dan jiwa muraqabah (merasa dekat dan merasa di awasi oleh Allah Swt).[7]  Senada dengan apa yang dijelaskan oleh Hasan al-Banna bahwa zikir menurut ketentuan syar’i  adalah zikir yang menyebut nama Allah dengan membaca tasbih, tahlil, takbir, Istigfar, membaca al-Qur’an, membaca do’a yang matsur, selain itu juga majlis-majlis yang diadakan untuk Da’wah Islamiyah. [8]Terkait dengan hal demikian Allah Swt berfirman:

$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#râè0øŒ$# ©!$# #[ø.ÏŒ #ZŽÏVx. ÇÍÊÈ   çnqßsÎm7y™ur Zotõ3ç/ ¸x‹Ï¹r&ur ÇÍËÈ 

“  Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.”

 ( Al-ahzab 41-42 )

Hal ini tentunya jauh berbeda dengan ajaran tasawuf, karena tekanan ajaran tasawuf adalah untuk mencapai penghayatan fana’ dan ma’rifat atau bahkan ada yang ingin mencapai penghayatan bersatu dengan Allah. Maka zikir dalam Tasawuf di jadikan wasilah atau tangga untuk mencapai penghayatan fana’ dan ma’rifat.

b.             Sama’

Secara etimologi sama’ artinya pendengaran, menerima wahyu, melakukan panduan suara. Dalam ajaran tasawuf di tunjukkan dengan nada-nada musik rohani, sedangkan sama’iyyah di artikan dengan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan akherat atau hal yang ghoib.[9]

Adapun secara terminology mengutip istilah Ibnu Ajibah Al-Husni bahwa, Sima’atau sama’ adalah mendengarkan syair-syair dengan melodi dan musik. Simak sering di wujudkan dalam bait-bait syair, lagu-lagu, Hymne-hymne, kasidah-kasidah, puisi-puisi cinta yang dilakukan dengan suara merdu dan dinyayikan dengan melodi-melodi dan suara bersama alat-alat musik, Sehingga dalam konteks Sufi, Sama’ artinya segala sesuatu  yang berhubungan dengan musik atau nyanyian yang dimaksudkan untuk peningkatan Rohani dan penyucian diri....[10] Ihsan ilahi dalam bukunya (Darah Hitam Tasawuf) mengutip perkataan Ibnu Ajibah al-Husni bahwa Sima’ adalah mendengarkan syair-syair dengan melodi dan music, dan sima’ tersebut di jadikan sebagai salah satu kebutuhan tasawuf. Bahkan orang Sufi mengatakan sima’ adalah cahaya santapan rohani bagi orang-orang kalangan sufi dikarenakan sima’ adalah sebagai penggambaran lembut tentang seluruh perbuatan dan dengannya watak bisa diketahui.[11]

Orang sufi berpandangan  bahwa untuk mengantarkan sufi ke maqam muhabbah diperlukan sama’ (mendengar bunyian-bunyian merdu) karena dengan cara itu dapat menggerakkan rasa mahabbah dalam qalbu. Dalam buku Darah hitam Tasawuf ditegaskan bahwa sima’ mempunnyai kedudukan tinggi dalam pandangan orang-orang sufi yang menyaingi kedudukan al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah Swt sebagai petunjuk untuk manusia, rahmat dan obat bagi orang-orang beriman.[12]

Imam alGazali  dalam memberikan rumusan tentang etika dalam sama’, setidaknya dapat disimpulkan dalam pernyataan beliau.

a.         Dalam melakukan proses sama’ hendaknya memperhatikan waktu, tempat dan orang-orang.

b.        Mendengarkan secara serius apa saja yang di katakan oleh penyayi, menghadirkan hati, sedikit menoleh kesamping dirinya dan menghindari pekerjaan yang tidak bermanfaat

c.         Jika dalam melakukan proses sima’ bisa membahayakan seorang syaikh atau murid, maka syaikh tidak selayaknya mendengarkan simak teresebut bersama muridnya.

d.        Seorang sufi tidak meninggikan suara dan harus mengendalikan diri sebisa mungkin.

e.       Menyesuaikan diri dengan para pendengar sima’ lainya.[13]

Bagi Ibnu Taimiyah, cara sama’ yang ditempuh kaum sufi hanya akan membawa sufi ke mahabah yang  semu, karena satu-satunya sarana ke maqam mahabbah adalah ketaatan kepada Allah Swt yang sekaligus akan mendatangkan kebahagiaan yang sempurna[14]. Sama’ di kalangan sufi berbeda dengan sama’ para nabi (sama’ an-ambiya). sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an.

4 #sŒÎ) 4’n?÷Gè? ÷LÏiø‹n=tæ àM»tƒ#uä Ç`»uH÷q§9$# (#r”yz #Y‰£Úß™ $|‹Å3ç/ur ) ÇÎÑÈ 

“apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” ( Maryam: 58 )

c.              Fana’

Dari segi bahasa fana berasal dari kata faniyah yang berarti musnah dan lenyap. sedangkan secara terminologi sebagaimana yang di kutip oleh simuh  bahwa fana’ atau ecstasy adalah proses beralihnya kesadaran dari alam indrawi ke alam kejiwaan atau alam batin.[15] Al-Fana dalam pengertian umum dapat dilihat dari penjelasan al-Junaidi bahwa al-Fana’ adalah hilangnya daya kesadaran qalbu  dari hal-hal yang bersifat indrawi karena adanya sesuatu yang di lihatnya. situasi demikian akan beralih karena hilangnya sesuatu yang terlihat dan berlangsung terus silih berganti sehingga tidak ada lagi yang disadari dan di rasakan oleh indra.[16]

Menurut Ibnu Taimiyah, al-Fana’ yang berkembang dikalangan kaum sufi terbagi dalam tiga bentuk, ketiga bentuk tersebut antara lain:

1.      Peleburan kehendak dan pengabdian diri kepada selain Allah, dimana kehendaknya menurut batas-batas kehendak tuhan dan tidak ada ke inginan selain keinginan Tuhan, tingkatan fana’ seperti ini adalah tingkatan para Rasul, ambiya dan lainnya,

2.      Peleburan kesaksian selain Allah, artinya pudarnya kesaksian seseorang terhadap sesuatu selain Allah Swt, yang kadang di akibatkan oleh kehanyutan hati dan kontinyuitas dalam dzikir dan ibadah.

3.      Peleburan wujud selain Allah, yang merupakan fana’ yang bisa mengantarkan pada situasi hulul dan al-ittihad.[17]

Bentuk Fana’ yang pertama kadang disebut peleburan ibadah kepada selain Allah, padahal kedua fana’ tersebut saling mengisi satu sama lain dan inilah sifat Fana’ yang terpuji. Fana tersebut bukanlah sebuah tujuan atau syarat untuk mencapai suatu tujuan, akan tetapi bertujuan untuk melebur ibadah kepada selain Allah dan melebur kehendak selain Allah, peleburan kehendak dan pengabdian diri kepada selain Allah merupakan perwujudan makna kalimat syahadat, hal ini merupakan realisasi makna firman Allah” hanya kepadamulah kami menyembah dan hanya kepadamulah kami meminta pertolongan”.[18]



                II.            Korelasi antara zikir, fana’ dan Sama’

Fungsi zikir dalam pandangan sufi sangat erat hubungannya dengan tercapainya kefanaan dan kema’rifatan. Karena salah satu jalan untuk mencapai fana’ (ectasy) disamping mendalamnya cinta rindu adalah dengan meditasi (pemusatan pikiran) dengan perantara dzikir. karena menurut kaum sufi zikir merupakan pintu yang paling besar untuk mencapai fana’ dan ma’rifatullah.  Disamping menggunakan wasilah dengan zikir atau meditasi, para sufi menemukan jalan atau cara lain yang dapat mengantarkan dirinya ke dalam al-Fana’, hal ini terjadi setelah abad ke sembilan, dimana antara ordo-ordo terekat kemudian mempergunakan musik, nyanyian dan tari-tarian untuk mempercepat tercapainya penghayatan yang dinamakan fana’ (ecstasy). Semua ini kemudian di istilahkan oleh orang sufi dengan sebutan sama’. Praktek sama’ ini secara formal cepat menyebar dalam kalangan para sufi yang memancing perselisihan pendapat yang cukup tajam.[19]

             III.            Kesimpulan

Setiap orang pada dasarnya membutuhkan suatu pengetahuan   dan petunjuk untuk mencapai kebenaran, sedangkan zikir kepada Allah merupakan instrumen yang akan mendatangkan hidayah Allah. Dzikir, sama’ dan Fana’ adalah bagian dari rentetan ritual peribadatan yang yang di praktekkan dalam ajaran Islam  dan ajaran tasawuf atau sufi pun memiliki istilah yang sama dalam hal demikian. Namun itu hanyalah sebatas persamaan lafadz, arti dan esensinya mengalami garis pembatas yang sangat jauh dari nilai-nilai keislaman.

Dan pada umumnya tujuan dari semua kehidupan tasawuf seorang sufi adalah untuk mencapai penyatuan dengan tuhan yang disebut dengan fana’. Karena fana’ adalah puncak dari penghayatan shufiyah, sehingga datang kefanaan yang  merupakan salah satu tingkatan yang sangat dinantikan oleh kaum sufi. Adapun salah satu jalan untuk mencapai penghayatan fana’ disamping mendalami rasa cinta rindu adalah dengan meditasi (pemusatan kesadaran dengan cara zikir). Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa zikir atau meditasi menurut ajaran taasawuf, pada hakekatnya berusaha mengalihkan kesadaran terhadap dunia luar (materi) untuk di pusatkan ke dalam batin. Ketika usaha tersebut berhasil, maka seorang hamba akan mendapatkan keanugrahan dan ia dapat membuka alam ghoib, kemudian berpusatnya seluruh kesadaran dalam batin, yang menyebabkan kesadaran terhadap luar menjadi lenyap, dalam kalangan sufi dikenal dengan istilah al-Fana’.

             IV.            Referensi

v  Masyharuddin, Pemberontakan Tasawuf,Surabaya :Stain Press Kudus, 2007, cet 1

v  Simuh,  Tasawuf dan perkembangannya dalam Islam, jakarta : PT Raja Grafindo persada, 1996, cet 1

v  M.Sholihin dan Rosihun Anwar, Kamus Tasawuf, Bandung :PT Remaja Rosda karya, 2002, Cet 1

v  Ihsan Ilahi Dzahir, Darah Hitam Tasawuf, Jakarta: Darul Falah, 2001, cet 2

v  Syeikh Fadhullah Haeri, Belajar Mudah Tasawuf, Jakarta: Lentera, 2000, cet 3

v  Abdul Qadir Djaelani, Koreksi terhadap ajaran tasawuf, jakarta: Gema Insani Press, 1996, cet 1

v  Rivay siregar, Tasawuf dari sufisme klasik dan new sufisme, Jakarta: PT. Raja Grafindo persada, 2002, cet 2

v  Muhammad As-Sayyid al-Galind, Tasawuf dalam pandangan al-Qur’an dan as-Sunnah, terj. Muhammad Abdullah al-amiry, Jakarta: Cendekia, 2003, cet 1





[1] . Masyharuddin, Pemberontakan Tasawuf,Surabaya :Stain Press Kudus, 2007, cet 1, hal 245

[2].  Ibid

[3] . ibid hal 246

[4] . Simuh,  Tasawuf dan perkembangannya dalam Islam, jakarta : PT Raja Grafindo persada, 1996, cet 1, hal 109

[5] . Pemberontakan Tasawuf, Op. Cit, hal 245

[6] . Simuh,  Tasawuf dan perkembangannya dalam Islam, jakarta : PT Raja Grafindo persada, 1996, cet 1, hal.113

[7] . Ibid, hal 114

[8]. Abdul Qadir Djaelani, Koreksi terhadap ajaran tasawuf, jakarta: Gema Insani Press, 1996, cet 1, hal. 210

[9] . M.Sholihin dan Rosihun Anwar, Kamus Tasawuf, Bandung :PT Remaja Rosda karya, 2002, Cet 1, hal.185

[10] . Syeikh Fadhullah Haeri, Belajar Mudah Tasawuf, Jakarta: Lentera, 2000, cet 3, hal 87

[11] . Ihsan Ilahi Dzahir, Darah Hitam Tasawuf, Jakarta: Darul Falah, 2001, cet 2, hal. 168

[12] . Ibid,  hal 171

[13] . M.Sholihin dan Rosihun Anwar, Kamus Tasawuf, Bandung : PT Remaja Rosda karya, 2002, Cet 1, hal. 180

[14] . Masyharuddin, Pemberontakan Tasawuf, Surabaya :Stain Press Kudus, 2007, cet 1, hal.123

[15]. Simuh, op.cit, hal. 103

[16] Rivay siregar, Tasawuf dari sufsme klasik dan new sufisme, Jakarta: PT. Raja Grafindo persada, 2002, cet 2, hal 146

[17] . Muhammad As-Sayyid al-Galind, Tasawuf dalam pandangan al-Qur’an dan as-Sunnah, terj. Muhammad Abdullah al-amiry, Jakarta: Cendekia, 2003, cet 1, hal 151

[18] . Ibid, hal 155

[19] , Simuh,  Tasawuf dan perkembangannya dalam Islam, Op.Cit, hal. 112

1 komentar:

cory,,,ejaannya banyak yang salah, ngak sempat di edit..harap dmaklumi...

Poskan Komentar